INFO MAN 4
Guru Profesional Mendidik dengan Hati

Guru Profesional Mendidik dengan Hati

Guru Profesional Mendidik dengan Hati

Hj. Yunarni Siregar, M.Pd. *)

 

 “Betapa bahagianya menjadi seorang guru yang tampil penuh kharisma dihadapan peserta didiknya. Sosok guru yang selalu dirindukan kedatangannya, diamnya disegani, tutur katanya ditaati,  dan kepergiannya ditangisi.” (Andrea Hirata, Laskar Pelangi)

 

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Dasar Pasal 39 (ayat 2) dinyatakan bahwa jabaran guru adalah jabatan professional. Hal ini diperkuat dengan UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang menyebutkan bahwa sebutan tenaga profesional bertujuan untuk meningkatkan martabat guru sendiri dan meningkatkan mutu pendidikan nasional (Pasal 4 ayat 2) dan untuk melaksanakan sistem pendidikan nasional dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab (Pasal 6).

 

Untuk mencapai tujuan ini tentu saja diperlukan guru yang menjalankan profesinya dengan kualifikasi akademik yang sesuai dan memiliki perilaku profesional. Perilaku profesional guru akan tercermin dalam penampilan pelaksanaan tugas-tugas yang ditandai dengan keahlian baik dalam materi maupun metode. Dengan keahliannya itu, seorang guru mampu menunjukkan otonominya, baik pribadi maupun sebagai pemangku profesinya.Di samping itu, ia mampu memikul dan melaksanakan tanggung sebagai sebagai guru kepada peserta didik, orang tua, masyarakat, bangsa negara, dan agamanya. Guru profesional mempunyai tanggung jawab sosial, intelektual, moral dan spiritual.Tanggung jawab pribadi yang mandiri yang mampu memahami dirinya, mengelola dirinya, mengendalikan dirinya, menghargai serta mengembangkan dirinya. Tanggung jawab sosial diwujudkan melalui kompetensi guru dalam memahami dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari lingkungan sosial serta memiliki kemampuan interaksi yang efektif. Tanggung jawab intelektual diwujudkan melalui penguasaan berbagai perangkat pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menunjang tugas-tugasnya. Tanggung jawab spiritual dan moral diwujudkan melalui penampilan guru sebagai makhluk yang beragama yang perilakunya senantiasa tidak menyimpang dari norma-norma agama dan moral.

 

Kaitannya dengan itu, setidaknya terdapat tujuh hal yang harus dipenuhi seorang guru untuk memenuhi tuntutan profesionalitas profesinya, yaitu keterampilan mengajar (teaching skill), penguasan subjek (subject mastery), dinamis terhadap perubahan kurikulum (dynamic currriculum),   penguasaan media pembelajaran (using learning equipment),  penguasaan teknologi (mastery in relevant technology), sikap professional (professional attitude), dan keteladanan (best practises). Ketujuh tuntutan profesi tersebut haruslah ditopang dengan tiga pilar utama karakter yaitu:  keunggulan (excellence), kemauan kuat (passion) pada profesionalisme, dan etika (ethical).

 

Excellence (keunggulan), yang mempunyai makna bahwa guru harus memiliki keunggulan tertentu dalam  bidang dan dunianya, dengan memperlihat komitmen untuk mencapai keunggulan, memiliki kecakapan untuk menemukan dan mengembangkan potensi diri, memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi yang pertama dan terbaik dalam bidangnya, danmelakukan perbaikan secara terus-menerus. Passion for Profesionalisme, yaitu menunjukkan kemauan kuat  yang secara intrinsik menjiwai keseluruhan pola-pola profesionalitas yang mencakup semangat untuk senantiasa menambah pengetahuan baik melalui cara formal ataupun informal, semangat untuk melakukan secara sempurna dalam melaksanakan usaha, tugas dan misinya, semangat untuk memberikan pelayanan yang terbaik terhadap apa yang menjadi tanggung jawabnya; dansemangat untuk mewujudkan pengabdian kepada orang lain atas dasar kemanusiaan.Ethical atau etika yang terwujud dalam watak yang sekaligus sebagai fondasi utama bagi terwujudnya profesionalitas paripurna.  Dari ketiga penopang inilah kemudian muncul karakter jujur, tanggung jawab, sikap menghargai, patuh, menjaga aturan dan konsekuensinya, peduli, dan memiliki sikap kewarganegaraan yang positif. 

  

Menilik bunyi undang-undang dan tuntutan sikap profesional tentu saja akan terbayang begitu berat tugas guru, seolah masa depan negara ada di tangannya. Pun begitu banyak hal yang harus dipenuhi oleh seorang guru. Begitu mulia kedudukannya, karena tanpa keberadaannya masa depan anak didik dan bangsa tentulah menjadi suram. Kedudukan ini selayaknya menjadikan guru bangga dengan profesinya. Wawasan dan keahliannya akan membentuk pandangan dan sikap muridnya akan kehidupan. Namun sayangnya, di antara para guru ada yang tidak menyadari keistimewaan profesi yang digelutinya. Profesi guru dipandang sebagai profesi yang kalah hebat dari profesi dokter, arsitek dan lain-lainnya. Tak heran jika terkadang ada yang memilih bekerja sebagai guru karena tak diterima atau tak mendapat pekerjaan di bidang lain. Padahal, menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk mengabdi. Melalui hatinya guru mengajar kebaikan untuk murid-muridnya.

 

Ungkapan bijak bahwa pendidikan adalah sebuah dunia yang lahir dari rahim kasih sayang mungkin ada benarnya, sebab pendidikan harus berlangsung dalam suasana kekeluargaan dengan pendidik sebagai orang tua dan anak didik (murid) sebagai anak. Pendidikan dilakukan dengan hati lewat ungkapan rasa kasih sayang (love), keikhlasan (sincerely), kejujuran (honesty), keagamaan (spiritual), dan suasana kekeluargaan (family atmosphere).  Guru tidak dibatasi waktu dan tempat dalam mendidik peserta didik, sebagaimana halnya dengan orang tua mendidik anaknya. Guru harus ikhlas dalam memberikan bimbingan kepada para peserta didiknya sepanjang waktu. Pendek kata guru adalah orang tua juga bagi anakdidiknya. Keberhasilan pendidikan karenanya tidak hanya ditentukan oleh kemahiran guru dalam mengajar. Namun lebih kepada bagaimana ia mendidik para peserta didiknya. Guru yang baik adalah seseorang yang bisa mengajar sekaligus bisa mendidik para peserta didiknya. Dengan kemampuannya untuk mengajar dan mendidik secara baik, akan dihasilkan anak-anak yang tidak hanya pandai secara intelektual, namun juga secara akhlak dan keimanan. Meminjam kalimat Milton Hildebrand, memang tak banyak guru yang hebat, tapi ada banyak guru yang kadang-kadang hebat. Setidaknya kita berusaha hal ini sering terjadi,  agar kita dapat mengantarkan anak didik kita menjadi generasi yang arif dan bijaksana.  Kita bisa berusaha seperti seperti guru Farhan dan Muslimah dalam kisah Laskar Pelangi karya Andrea Hirata yang bangga dan cinta menjadi guru serta tetap menjadi seorang pendidik tanpa keluhan dan kata menyerah, meski mengajar di sebuah ruang sekolah yang nyaris runtuh. Selamat Hari Sumpah Pemuda. Satukan Semangat Membangun Negeri. Selamat Hari Guru, Semoga Alifmu Mengantar Anak Didik Memahami Dunia.

 

Bahan Bacaan:

Andrea Hirata, 2006. Laskar Pelangi.

Sajidan. Pengembangan Profesionalisme Guru dan Dosen. Diunduh dari http://sajidan.staff.fkip.uns.ac.id/2011/02/25/pengembangan-profesionalisme-guru-dan-dosen/ pada tanggal 28 Oktober 2013

Natalia. Menjadi Guru Itu Mulai dari Hati…  diunduh dari http://edukasi.kompas.com/read/2011/11/25/19031453/Menjadi.Guru.Itu.Mulai.dari.Hati. pada tanggal 28 Oktober 2013

 

*) Guru Bahasa Indonesia / Waka Humas MAN 4 Jakarta

 

Leave a Reply