SURAT UNTUK IBU

SURAT   UNTUK   IBU

Hj. Yunarni Siregar, M.Pd. *)  

 

Bu, hari ini aku mulai menuliskan kembali sepucuk surat yang nyaris tak pernah tergores. Setiap aku mulai menulis air mataku tak terbendung membasahi kertas. Sungguh memang aku tak kuasa menahan rasa hati, betapa sedihnya diri ini karena belum mampu membuatmu tersenyum lebar menatap kehidupan. Engkau masih terus mencurahkan kasihmu pada anak-anakmu dan seluruh keluarga. Sungguh ibu, aku awalnya aku tak berani menggantikan ungkapan cintaku padamu hanya melalui secarik kertas. Begitu agungnya dirimu, bu. Engkau seperti lirik lagu yang terus bersenandung dalam setiap detik kebahagiaan yang kurasakan. Kadang aku memang lupa akan syairnya, tapi aku tak pernah lupa setiap waktu yang kulalui bersamamu, ibu. Aku bukanlah seorang penyair yang mampu merangkai kata yang begitu indah, namun aku tahu pasti bahwa engkau dalam kondisi apapun memahami aku yang ungkapkan.

 

Ibu, aku ingin mulai dengan TERIMA KASIH  yang sebesarnya telah menjadi dewa pelindung kapanpun aku memerlukan karena engkau adalah sosok yang begitu kuat menghunjam kasihmu dalam setiap waktu kehidupanku. Betapa tidak, saat engkau lelah dan menahan sakit berjuang begitu luar biasa saat melahirkanku, engkau masih bisa tersenyum dan selalu memberikan yang terbaik bagiku agar bisa tumbuh dengan sempurna. Malah engkau tersenyum penuh syukur mengiringi kelahiranku. Meski sejak saat itu, aku baru memahaminya lama kemudian,  kala malam gelap tidurmu tak pernah lelap, terganggu suara tangisku. Tangan begitu sigap meraihku dalam lagu timang-timang. Kakimu begitu sigap melangkah menjaga setiap langkah kecilku ketika aku mulai belajar berjalan dan berlari. Engkau tak bosan dengan setiap rengekan dan tangisan. Saat mulai belajar di sekolah hingga kinipun engkau masih selalu memberikan perhatian dan kasih sayangmu pada anak-anakmu. Dalam diam, engkau memperhatikan setiap langkah anakmu. Dalam diam pula engkau bertindak tanpa kata, saat anakmu yang tak semestinya masih merepotkanmu, pun engkau tetap turun tangan demi kebahagiaan kami anak-anakmu. Tak sedikitpun wajah lelah tampak, hanya ada senyum bahagia dan rasa syukur pada Sang Pencipta, sebab engkau hanya bisa bahagia saat kami tersenyum bahagia, begitu katamu.. Terima kasih telah mengajarkan rasa tak kenal lelah, rasa syukur  dan kebijakan menghadapi hidup, karena dengan itu engkau pun mengajar keimanan padaku.

 

Aku juga ingin mohon MAAF yang sedalamnya padamu, bu. Aku belum begitu pandai berlaku dan berbuat yang terbaik untuk membahagiakanmu. Malah terkadang aku membentakmu, mengeluarkan kata-kata keras yang membuat hatimu luka. Sungguh bu, aku tak bermaksud membuat sakit dan terluka. Kala itu, aku belum begitu pandai  memaknai kasih sayang, tertutup egoku yang berlebihan, yang hanya ingin diperhatikan dan dicintai. Padahal bu, engkau jauh lebih berhak mendapatkan mahkota cinta itu. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan asa yang aku punya untuk terus menerus agar engkau bahagia, meski aku juga tahu tak mungkin rasanya untuk membalas seluruh kasih sayangmu. Sekali lagi, maafkan aku ibu, jika aku tak begitu pandai mencintaimu dan belum mampu membahagiakanmu. Aku hanya bisa berusaha untuk tak lagi melihat air di matamu yang indah, selain air mata kebahagiaan. Aku akan terus berusaha membuatmu tersenyum bangga untuk berkata, “itu lho, anakku”.  Bu, aku sungguh mencintaimu. Jujur, aku jarang mengungkapkan kata-kata indah di hadapanmu. Terkadang aku begitu sibuk dengan urusanku. Saat aku remaja dan hingga kita, aku lebih perduli pada diriku dan keluargaku. Aku begitu sibuk dengan urusanku, yang membuatku seolah tak sempat untuk meneleponmu mengungkapkan terima kasih dan rasa sayangku padamu. Maafkan aku, jika aku tak begitu pandai mencintaimu. Aku hanya bisa mendoakanmu dari kejauhan di setiap shalatku, “Ya Allah jaga dan lindungi ibuku, pelihara kesehatannya, ampuni segala dosa dan salahnya, jadikan ia satu di antara hamba yang Engkau kasihi, jangan biarkan ia sakit dan menangis, berkahilah umurnya, dan berilah kesempatan bagiku untuk mengasihinya di sepanjang usiaku, Amin Ya Rabbal Alamin”.

 

Bu, aku ingin terus menulis, meski aku tahun jutaan kertaspun takkan mampu menampung seluruh cintamu padaku. Aku masih ingin mengungkap setiap rasa yang ada. Begitu bangganya aku padamu, bu. Namun semakin banyak yang aku ingin ungkapkan, airmatakupun semakin deras mengucur di pipiku. Aku tak ingin lagi kertas ini rusak, karena ini adalah bukti cinta. Meski kecil, tapi sedikit kata tertulis ini adalah bukti bahwa engkau telah melakukan segalanya untukku. Engkau selalu bekerja keras. Terima kasih telah menjadi guru yang terbaik untukku, maafkan aku jika aku belum mampu membahagiakanmu. Saat ini aku hanya berpikir dan memutuskan, aku tak lagi akan meminta sesuatu padamu selain “bu, jangan pernah menangis lagi, tersenyumlah selalu, karena aku tak ingin melihatmu bersedih”.

 

SELAMAT   HARI    IBU

 

*) Guru Bahasa Indonesia / Waka Humas MAN 4 Jakarta 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.