Kajian Titik Temu Filsafat Islam dan Barat

“Benang Merah”

Sebuah Kajian Titik Temu Filsafat Islam dan Barat

Oleh : Ahmad Fitroh, S.H.I

Guru Bahasa Arab MAN 4 Jakarta

 

1.  Pendahuluan

Dalam kerangka berfikir manusia, akal menjadi tumpuan utama dalam menemukan jawaban atas fenomena faktual. Keunggulan akal yang dianugerahkan kepada manusia menjadi pembeda atas keniscayaan kehidupan makhluk. Hewan bisa jadi dibekali hardware otak, tetapi tidak dibekali sistem instalasi software berfikir (think software instalation). Apalagi tumbuhan, api, air, udara, angin, batu dan sebagainya hanya mampu bertugas sesuai dengan perintah yang diberikan, tidak bisa melakukan dinamisasi selayaknya manusia. Hanya manusia yang mampu menembus jarak terjauh semesta ini lewat kendaraan akal pada otak sempurna manusia. Kekuatan akal manusia dapat menempuh rendah dan tinggi, dekat dan jauh, sempit dan luas bahkan mampu menempuh kedalaman ‘jagad raya berfikir’.

Dalam kajian kisah-kisah para nabi, disebutkan bahwa manusia pertama, Adam, mampu mengalahkan kedahsyatan ahli ibadah para malaikat dan iblis hanya dengan kekuatan ilmu pengetahuan yang dimiliki Adam. Semua tunduk bersujud mengakui kehebatan akal Adam yang telah melakukan eksplorasi terhadap semesta dengan “sidang disertasi” membedah al-asmaa’ kullahaa. Karya ilmiah Adam begitu mempesona para malaikat dan iblis sehingga Adam layak memperoleh gelar akademik “Khalifah Fil Ardhi (QS: 2: 30)

Terkait dengan itulah filsafat menjadi ‘imam’ terbentuknya dasar-dasar pengetahuan yang ada. Filsafat menjadi sentra eksploitasi akal atas ruang kajian ilmiah yang mengindera fenomena faktual dulu, kini dan mendatang dalam ranah kognisi metafisika semesta. Keuletan para filosuf mendatangkan inspirasi fenomenal. Kosmologi menjadi kajian utama filosuf dalam kerangka menjawab keresahan alam pikir. Dari mana muasal alam ini, apa zat pembentuknya, apa atau siapa yang terdahulu, bahkan yang terakhir nanti, dalam filsafat Islam ditambah bagaimana Tuhan mengintervensi penciptaan dan perawatan semesta. Dan seterusnya, mereka selalu mempertanyakan hal-hal ‘aneh’ tentang kosmologi, ketuhanan dan realita. Sehingga memunculkan teori-teori filsafat ke-alam-an.

Islam pun melalui tokoh-tokoh pemikir muslim melakukan olah pikir filsafat dengan meramu teori-teori filsafat Grika (Yunani) lewat pembacaan buku-buku filsafat karya Socrates, Plato, Aristoteles dan Plotinos. Setelah melalui pembacaan yang sangat mendalam, diterjemahkan, lalu dibuat karya-karya baru filsafat versi filosuf muslim. Al-Kindi mengawali filsafat Islam dengan menerjemahkan karya filsafat Yunani tadi. Yang kemudian dilanjutkan dengan Al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd dan lain-lain.

2.  Produksi Filsafat

Mohammad Hatta dalam bukunya berjudul Alam Pikiran Yunani menuliskan bahwa filsafat era Yunani diawali munculnya filosuf klasik bernama Socrates. Socrates baru membuka jalan akan sebuah makna pada alam semesta. Alam yang tak bertubuh telah diketahuinya, mata pikirannya telah jauh memandang ke dalam. Socrates baru mencari kebenaran; ia belum sampai menegakkan suatu sistem pandangan. Tujuan Socrates baru hanya mencari dasar yang kuat bagi kebenaran moral. Berlanjut kepada muridnya, Plato. Bagi Plato kesengsaraan di dunia tidak akan berakhir sebelum filosuf menjadi raja atau raja-raja menjadi filosuf. Plato sering memperbincangkan persoalan pertentangan politik dan pandangan hidup. Plato seringkali mengecam retorika secara hebat yang berkaitan dengan nihilisme politik dan sosial kaum sofis. Selanjutnya Aristoteles, murid Plato, yang memiliki pandangan yang lebih realistis ketimbang gurunya Plato. Aristoteles justru lebih memandang sesuatu pada hal  yang konkrit, nyata, empiris dan fakta. Ia sering melakukan pengumpulan data-data yang faktual yang disusun berdasarkan ragam dan jenisnya yang dihimpun ke dalam suatu sistem. Kemudian barulah ia melakukan kesimpulan berdasarkan analisis fakta tadi.

Bahkan Seyyed Hossein Nasr menguatkan tulisan M. Hatta di atas yang menyebutkan bahwa Grika (Yunani) adalah salah satu bukti peradaban pemikiran filsafat yang sangat maju yang menjadi inspirasi perkembangan pemikiran-pemikiran filsafat berikutnya di dunia Islam. Nasr mencontohkan Aristoteles misalnya menjadi tokoh yang sangat berpengaruh besar pada alam pemikiran Islam. Bagi kaum muslimin Aristoteles adalah Sang Filosuf paripurna, dimana sistem dan khas logikanya selaras benar dengan selera ensiklopedis dan ketajaman gramatika mereka. Tidak hanya berhenti di situ, Barat pun turut menikmati pemikiran besar Aristoteles setelah Islam berjaya menyebarkan ekspansi ilmiahnya ke beberapa wilayah di luar jazirah Arab.

Hal ini diperkuat Abdul Muid Nawawi dalam karya monumentalnya Islam Versus Barat: Merajut Identitas yang Terkoyak yang menghubungkan sebuah infiltrasi budaya Islam yang masuk ke dalam nuansa etik budaya Barat yang senantiasa melihat perjalanan sejarah yang begitu panjang memasuki seluk beluk ‘ruhani’ nilai-nilai sosial sehingga menemukan kultur baru dalam relasi keduanya. Menurutnya, sejarah peradaban Islam yang memasuki wilayah barat ketika Islam mengusai Andalusia, yang dipimpin salah satu khalifah Bani Umayyah, Abdurrahman. Di situlah dimulainya ‘akulturasi’ budaya dan peradaban yang kemudian melahirkan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban dimana kemajuan tersebut kemudian menjadi model bagi perguruan tinggi di Oxford dan Cambridge University saat ini. Berbeda  dengan Khamami Zada dalam risetnya tentang relasi Islam-Barat justru menekankan pada ‘hubungan panas’ di antara keduanya. Baginya sejak munculnya 911 Case (peristiwa pengeboman WTC) menjadikan jurang pemisah yang sangat jauh antara Islam dengan Barat. Terutama dalam bidang pendidikan. Hal tersebut menandakan bahwa besarnya Barat saat ini merupakan ‘andil’ terbesar para filosuf Muslim sejak abad kedelapan Masehi.

Dalam dunia Islam, filsafat sudah dimulai sejak abad kesembilan Masehi dengan dilakukannya penerjemahan teks filsafat Grika ke dalam bahasa Arab. Al-Kindi pertama kali menginisiasi penerjemahan teks-teks Yunani ke dalam bahasa Arab. Al-Kindi memprakarsai proses perumusan vokabuler teknis filsafat dalam bahasa Arab dan merekonstruksi filsafat Grika dalam sorotan ajaran Islam. Hasilnya, sangat inspiratif bagi kalangan pemikir Muslim saat itu, sehingga Al-Farabi pun mengikuti jejak Al-Kindi dalam mempelajari filsafat-filsafat Grika. Al-Farabi merupakan pencetus filsafat Peripatetik. Filsafat Peripatetik dipengaruhi oleh (1) Neoplatonis Iskandariah dan Athena; (2) komentator-komentator Aristoteles. Filsafat al-Farabi juga dipengaruhi doktrin politik Syi’ah. Filsafat Peripatetik sesungguhnya didasarkan pada penggunaan kemampuan logika dan bertumpu hakikatnya pada metode silogistik.

3.  Ikhtilaf Intelektual

Whitney R. Mund dalam karyanya Global Media Philosophies –sebagaimana dikutip Onong Uchjana Effendy dalam Ilmu, Teori dan Filsafat Komunikasi– menegaskan bahwa ia tidak memperhitungkan suatu filsafat sebenarnya ( true philosophy ) terhadap cinta akan kebijaksanaan atau pengetahuan yang sesungguhnya juga tidak untuk menjelaskan keterpautan pemerintah dengan jurnalistik dimana keseimbangan kekuatan selalu bergeser ketika filsafat dikaitkan dengan dunia komunikasi dan jurnalisme. Konteks ini sangat dekat sekali dengan Plato ketika mencoba menyampaikan pandangannya tentang negara, masyarakat dan pendidikan.

Nurkholis Madjid –dalam Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan– menyatakan bahwa sebenarnya sumber dan pangkal tolak filsafat dalam Islam adalah ajaran Islam sendiri sebagaimana yang terdapat di dalam al-Qur’an dan Sunnah. Meskipun demikian memiliki dasar yang sangat kokoh dalam sumber-sumber ajaran Islam sendiri, filsafat banyak mengandung unsur-unsur dari luar, terutama Hellenisme atau dunia pemikiran Yunani. Orang-orang Islam pada awalnya berkenalan dengan ajaran Aristoteles dalam bentuknya yang telah ditafsirkan dan diolah oleh orang-orang Syria dan hal tersebut berarti bahwa masuknya unsur-unsur Neoplatonisme. Cukup menarik bahwa sebagian orang Islam begitu sadar tentang Aristoteles dan apa yang mereka anggap sebagai ajaran-ajarannya, namun mereka tidak sadar atau sedikit sekali mengetahui adanya unsur-unsur Neoplatonisme di dalamnya. Ini menyebabkan sulitnya membedakan antara kedua unsur Hellenisme yang paling berpengaruh terhadap filsafat Islam itu karena memang terkait satu sama lainnya.

4.  Kesimpulan-Penutup

Seorang Filosuf, Rene Descartes, pernah berujar, “aku berfikir, maka aku ada”. Kekuatan pikir adalah maksimalisasi fungsi akal yang senantiasa menerobos lorong-lorong kegelapan ketidaktahuan. Akal yang selalu difungsikan secara benar, pasti akan menemukan jawaban atas kegelisahan perenungan yang terjadi. Allah SWT menganugerahkan akal seyogyanya menjadi jalan untuk menemukan Sang Hakikat yang telah dipaparkan melalui tanda-tanda empiris di alam ini. Filsafat mengawali proses pencarian itu dengan senantiasa “mempertanyakan” sebagai landasan awal menemukan jawaban.

Filsafat Islam yang diprakarsai oleh Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Sina merupakan buah pikiran yang sangat besar yang dipengaruhi oleh karya monumental filsafat Yunani yang secara tidak langsung menjadi guru besar pemikir-pemikir Muslim tersebut. Ibnu ‘Arabi salah satu filosuf Muslim yang sangat sufistik juga selalu memberikan nilai-nilai filsafat ke dalam ajaran-ajaran tasawufnya, begitu pun sebaliknya. Idries Shah sangat gamblang menceritakan perjalanan kaum Filosuf Sufi seperti halnya Ibnu ‘Arabi ini. Beliau bahkan dijuluki sebagai Syaikh al-Akbar, Guru Terbesar.

Tidak hanya Ibnu ‘Arabi, Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd pun merupakan filosuf Muslim yang sangat mengagungkan nilai-nilai sufistik ke dalam aliran filsafatnya. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa filsafat yang dipelajari pemikir-pemikir Muslim pada generasi awal sesungguhnya adalah ingin mengantarkan manusia kepada sebuah hakikat kebenaran melalui nalar akal yang difungsikan secara maksimal sehingga mampu menerima hakikat itu menjadi sebuah kebenaran yang absolut dalam koridor agama dan nilai. Itulah yang disebut sebagai kebijaksanaan (wisdom). Bila filsafat Grika hanya menampilkan epistemologi ‘absolutisme’ kosmik tanpa mendasari agama, filsafat Islam “menawarkan” aspek sufistik pada ruh filsafat itu. Mungkin hal itu disebut benang merah. Wallahu a’lam. [elsyamra, 3-03-2014].

 

Daftar Pustaka

Seyyed Hossein Nasr, Sains dan Peradaban di Dalam Islam, Bandung: Pustaka, 1997, Cet. II.

Abdul Muid Nawawi, Islam VS Barat: Merajut Identitas yang Terkoyak, Jakarta: Eurabia, 2013. Cet. I

Mohammad Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jakarta: Tintamas, 1986.

Khamami Zada, Islam Radikal, Bandung: Teraju, 2002.

Nurcholis Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban : Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan dan Kemodernan, (Jakarta: Paramadina, 1995), Cetakan III.

Idries Shah, Jalan Sufi, Jakarta: Pustaka Jaya, 1985. Cet. I.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.