Siswi MAN 4 Peraih Emas OSM Ikuti Training Persiapan Kuliah

 

 

Bandung—(Madrasah). Zahra, Laily, dan Melati adalah siswi kelas 3 Madrasah Aliyah yang berasal dari wilayah Indonesia yang berbeda-beda. Tentu saja, keberagaman wilayah tersebut menghasilkan logat yang berbeda dalam tiap percakapan mereka. Ada yang berasal dari Makassar, ada yang berasal dari Lombok, dan satunya lagi berasal dari ibukota, Jakarta.

Walaupun berbeda, mereka saling berbaur berkat acara karantina selama dua Minggu bertajuk Smart Motivation & Active leaRning Training (S.M.A.R.T) 4 Kompetensi Sains Madrasah (KSM).  Acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama dan LPPM ITB ini merupakan “hadiah” bagi para pemenang Kompetisi Sains Madrasah (KSM). Peraih medali emas, perak, dan perunggu KSM tingkat nasional.

Zahra meraih medali perak, sedangkan Laily dan Melati  meraih medali emas dalam KSM mata pelajaran Biologi. Kesungguhan mereka pun dibayar dengan sebuah training yang mempersiapkan mereka untuk berkuliah. Tak hanya pemenang dari mata pelajaran Biologi yang diundang. Namun terdapat pula pemenang-pemenang dari mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Geografi, dan Ekonomi.

 “Pengetahuan kami jadi bertambah. Tapi kan materi pelajaran bisa dibaca sendiri,” aku Melati Puspadewi dari Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 4 Jakarta. “Yang jelas, di sini aku suka ketemu dengan orang-orang baru dengan bahasa baru.”

Laily berpendapat senada. Siswi dari MAN 2 Model Mataram ini berkata “Super. Banget. Keren!” ketika ditanya kesannya soal Training S.M.A.R.T for KSM ini. Ia senang karena mendapat teman baru dari seluruh Indonesia. Laily juga menceritakan kebiasaan mereka tiap malam untuk berbagi tentang budaya masing-masing.

 “Di sini teman-temannya pinter-pinter lagi. Tapi yaa rada-rada gila. Mereka itu spesies unik!” seru Laily.

Zahra pun mengatakan, ia jadi mengenal kebudayaan baru dari seantero Indonesia lewat pelatihan ini. Namun, di sela-sela ceritanya tentang pengalamannya mengikuti training, ia pun curhat tentang nasib anak madrasah di daerahnya. “Di beberapa daerah, seperti Makassar dan Lombok kita nggak boleh ikutan Olimpiade Sains Nasional,” keluh Zahra.

Laily pun mengamini. “Kalau di daerahku, alasannya karena madrasah punya kompetisi sendiri, yaitu KSM. Atau ketika kita dibolehkan ikut OSN, kemudian madrasah menang dan SMA kalah, madrasah malah tidak diundang lagi.”

Kasubdiv Kesiswaan Direktorat Pendidikan Madrasah dari Kemenag, Sastra Djuanda mengatakan, salah satu alasan mengapa KSM diadakan adalah karena beberapa propinsi tidak mengikutsertakan madrasah dalam OSN. Alasannya variatif. “Padahal, dana pendidikan itu harus mencakup seluruh pendidikan yang ada di propinsi. Termasuk sekolah umum dan madrasah,” tegas Sastra pada penutupan S.M.A.R.T for KSM, Rabu, (17/12) di Hotel Lotus.

Terlebih, ia menilai anak-anak madrasah memiliki potensi yang sangat luar biasa. Ia menilai, anak-anak madrasah memiliki kelebihan dalam aspek moralitas. Anak-anak madrasah terbiasa dengan pembinaan keagamaan yang cukup sering. “Di madrasah, tak hanya guru agama saja yang melakukan pembinaan agama. Seluruh guru bertanggung jawab atas pembinaan moral,” ujar Sastra.

Meskipun demikian, ia menilai terdapat beberapa propinsi yang telah menunjukkan itikad baik dalam pembinaan madrasah. Propinsi-propinsi tersebut antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, dan beberapa propinsi lainnya. “Selain propinsi, saya ingin pemerintah secara objektif melihat madrasah. Anak madrasah adalah anak bangsa juga,” ungkapnya. [hmm].

Sumber : madrasah.kemenag.go.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.