Santri Asrama MAN 4 Mengikuti Pembelajaran Bahasa Arab Metode Tamyiz

tamyiz_1

“Pusing, bingung”, mungkin itulah kata yang kerap diungkapkan mayoritas santri anyar ketika mereka harus berhadapan dengan kajian Nah-Shor (Nahwu dan Shorf) di berbagai pondok pesantren. Namun tidak demikian dengan para santri Boarding MAN 4 Jakarta, yang sedang asyik dengan nada-nada tamyiz mereka.

Pembelajaran Nahwu dan Shorf urgent dalam pendidikan Islam, karena keduanya termasuk kunci untuk memahami kitab klasik bahkan al-Qur’an al-Karim. Namun memahami kedua ilmu ini bukan hal yang mudah, apalagi jika tidak menggunakan metoda yang mampu menyesuaikan dengan kondisi psikis santri. Oleh sebab itu, pada hari sabtu dan minggu (30 April dan 1 Mei 2016), MAN 4 Jakarta mengadakan pelatihan kitab kuning dan tarjamah al-qur’an melalui metode tamyiz untuk santri asrama. Pelatihan ini bertempat di ruang multimedia MAN 4 Jakarta yang  disampaikan oleh Ustad Irfan, didampingi oleh Wakil Kepala Madrasah Bidang Asrama (K.H. Ahmad Nawawi M.A), para pembina, dan dihadiri oleh sekitar 50 orang santri (putra/putri) sebagai peserta. Menurut Bapak H. Nawawi, ini merupakan  pelatihan sesi satu dan akan diadakan pelatihan sesi dua metode Tamyiz pada minggu kedua bulan Mei mendatang.

tamyiz_2

Metode Tamyiz dipilih, karena metode ini termasuk metode yang sesuai dengan kondisi para santri. Materi yang disampaikan lebih banyak menggunakan nada lagu yang akrab ditelinga santri. Mulai dari Yaa Thoyyiba, ampar-ampar pisang, jagalah hati bahkan nada manuk dadali digunakan untuk menghafal materi-materi nahwu dan sharf. Kalau dalam kajian klasik, kita mengenal hal serupa dalam kitab ‘arudh, yang juga digunakan dalam menghafal beberapa kitab nahwu-shorf berbentuk sya’ir seperti alfiyah, nadham al-maqsud, ‘imrithy dan sebagainya. Hanya saja nada-nada itu memang baru sifatnya, berbeda dengan Tamyiz yang disampaikan oleh gurunya, memang dengan nada-nada yang sudah akrab di telinga santri –sebagaimana telah disebutkan- , terutama bagi para mubtadi (yang baru belajar kitab).

Prosesnya sungguh luar biasa, para santri sangat antusias mengikuti pembelajaran, mereka terlihat energik dan sumringah, padahal mereka mengikuti pembelajaran dalam jarak waktu yang cukup lama. Pelatihan dimulai pukul 08.30-15.00 (jedda dzuhur) pada setiap harinya, akan tetapi tidak ada tanda-tanda mengeluh atau pusing pada raut wajah santri anyar, dalam menerima pembelajaran Tamyiz, semuanya menikmat dengan penuh kegembiraan.. Akhirnya semoga hasil yang diperoleh, berbanding lurus dengan proses yang sudah dilalui. Aaamiin

Kontributor : Asep Eka Mulyanudin, S. Pd. I